Nganjuk,kabarpos.id – Aktivis dari Aliansi Anti Korupsi Indonesia (AAKI) berencana menggelar aksi unjuk rasa dalam waktu dekat untuk mendesak pengusutan dugaan praktik pungutan liar (pungli) di SMAN 1 Rejoso, Kabupaten Nganjuk.
Isu dugaan praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan SMAN 1 Rejoso ini, memancing reaksi keras dari elemen masyarakat. Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Aliansi Anti Korupsi Indonesia yang dipimpin oleh Aris Gunawan ini berencana menggelar aksi demo di depan kantor dinas pendidikan Jawa Timur dalam waktu dekat.
Aksi ini dipicu oleh keluhan para wali murid yang mengaku terbebani oleh kewajiban pembayaran uang gedung dan iuran bulanan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, besaran pungutan uang gedung mencapai kisaran Rp1 juta hingga Rp1,2 juta, ditambah iuran bulanan (SPP) sekitar Rp70 ribu.
Dalam orasinya,Aris Gunawan mengatakan bahwa pungutan yang diikat dengan nominal dan batas waktu tertentu tidak bisa disebut sebagai sumbangan sukarela. Praktik tersebut dinilai telah melanggar aturan dan memberatkan orang tua siswa, terutama menjelang pelaksanaan ujian sekolah.
“Kami mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) serta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk segera turun tangan memeriksa legalitas pungutan ini. Dalih sumbangan seringkali hanya dijadikan tameng oleh oknum sekolah untuk melakukan pungutan yang bersifat memaksa,” ujar Aris Gunawan saat berkumpul pada sabtu (03/09/2026).
Menurut pentolan ketua aliansi (AAKI) tersebut,Bukti pengakuan wali murid serta arahan pihak sekolah untuk melunasi tunggakan siswa,merupakan sebuah bukti nyata untuk Aparat Penegak Hukum memeriksa dan melakukan sidak.Jika sekolah menepis berita itu tidak benar.Maka salah satu guru yang menagih di grup whatsapp tersebut wajib diperiksa secara obyektif dan transparansi kepada publik maksud dari himbauan tersebut apa.
Setelah viralnya dugaan pungutan liar yang menyeret ketua MKKS SMA Negeri di kabupaten Nganjuk ini.Banyak orang tua yang mengaku dan membenarkan adanya pungutan di SMA Negeri 1 Rejoso tersebut.
“Anak saya yg pertama bayar uang gedung 2,5 juta.Anak saya yg kedua bayar uang gedung 500 ribu.sekolahnya ya di SMA Negeri 1 Rejoso ini.” Ungkap salah satu wali murid yang identitasnya kami rahasiakan.
Maraknya aksi pungutan liar yang menggunakan kata sumbangan sebagai tameng ini memicu desakan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk turun dan memberikan sanksi tegas bagi sekolah yang melanggar.
“Kita tunggu saja dalam waktu dekat,kami aliansi beserta teman-teman aktivis lainnya akan turun untuk mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur bena-benar bertindak tegas demi memberantas apapun jenis pungutan yang mengotori dunia pendidikan saat ini.” Imbuh Aris Gunawan.
Masih kata Aris,dirinya akan mempersiapkan seluruh legalitas maupun ijin kapan waktu yang tepat untuk dirinya melakukan demo menyampaikan aspirasinya ini.
“Kita tunggu saja,dalam waktu dekat kami bersama aktivis-aktivis yang lain akan turun aksi mendesak Dinas maupun APH terkait untuk mengusut tuntas kasus pungli di SMA Negeri 1 Rejoso ini.” Pungkas Aris Gunawan.
(Bersambung/Red)






