Jombang, kabarpos.id – Dari sebuah desa yang lahir di lingkar spiritual Masjid Jamik Ar-Ridlo, Kauman di Kecamatan Mojoagung kini menorehkan cerita berbeda. Di bawah kepemimpinan Wibisono, desa ini bergerak cepat meninggalkan stigma desa tradisional dan mulai menata diri sebagai desa digital, berkelanjutan, dan siap terhubung dengan dunia.
Transformasi itu dimulai dengan peluncuran “Kauman Digital”, sebuah platform yang meruntuhkan birokrasi panjang dan membuka akses warga untuk mengurus berbagai layanan publik langsung dari genggaman tangan. Surat menyurat, perizinan kecil, laporan keuangan, hingga pengumuman pembangunan kini bisa diakses transparan melalui gawai.
Sistem notifikasi pintar yang dirancang khusus membuat warga tidak pernah tertinggal informasi, dari jadwal vaksinasi, kegiatan posyandu, hingga proyek rabat jalan yang tengah berlangsung.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, roda ekonomi desa ikut bergerak. BUMDes Kreatif Mandiri membuka ruang baru bagi hasil pertanian, kerajinan tangan, dan produk pangan olahan untuk menembus pasar lebih luas.
Tidak hanya berhenti di pasar lokal, produk Kauman kini berjejaring lewat platform e-commerce, bahkan sebagian telah merambah permintaan dari luar negeri dalam skala kecil. Ini bukan sekadar bisnis, melainkan pembuktian bahwa desa pun bisa berdiri sejajar dalam arus globalisasi.
Kauman tidak melupakan ekologi. Dengan semangat keberlanjutan, warga didorong mengadopsi pertanian organik, menjaga sumber air, dan melakukan reboisasi di kawasan tangkapan air. Langkah sederhana ini mengikat komitmen desa pada agenda perubahan iklim dunia: sebuah desa kecil yang ikut menyumbang jawaban bagi masalah planet.
Di sektor sosial, denyut pemberdayaan terasa kian kuat. Pelajar hingga ibu rumah tangga digembleng literasi digital agar mampu menatap ekonomi abad 21. Posyandu menjadi benteng utama pencegahan stunting, dengan program edukasi gizi dan pendampingan kesehatan anak.
Pendidikan keagamaan pun tidak ditinggalkan; madrasah dan sekolah di Kauman menanamkan karakter sekaligus kecintaan pada budaya dan tradisi, menjaga agar modernisasi tetap berpijak pada akar spiritual.
Prestasi demi prestasi lahir. Desa ini masuk nominasi penghargaan sebagai desa inovatif di tingkat kabupaten dan provinsi, sekaligus menjadi model proto-desa berkelanjutan yang banyak dijadikan bahan studi banding. Dari keterbatasan anggaran, Kauman justru menunjukkan keunggulan: tata kelola anggaran yang transparan dan partisipasi warga yang tinggi.
Wibisono memahami bahwa masa depan desa tidak bisa hanya diukur dari jalan beton atau gedung megah. Ia membawa Kauman menyiapkan diri sebagai destinasi wisata budaya dan agro, membuka pintu homestay, wisata religi, hingga pertukaran pengetahuan dengan universitas dan lembaga riset luar negeri. Sebuah desa di Jombang yang pelan-pelan menata panggungnya untuk dunia.
Kauman adalah kisah tentang keberanian menolak diam, tentang desa yang melampaui sekat dan jarak, tentang transformasi yang lahir dari tangan-tangan sederhana namun bercita-cita besar. Dari Mojoagung, Kauman berdiri bukan hanya sebagai desa, melainkan sebagai inspirasi global bahwa masa depan tidak hanya milik kota, melainkan bisa tumbuh dari tanah desa yang bersahaja.(Red)
